WB – Asahan | Di tengah pesatnya pembangunan dan kemajuan teknologi yang menjangkau berbagai pelosok negeri, warga Dusun VIII Desa Pertahanan, Kecamatan Sei Kepayang, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, masih menjalani kehidupan tanpa aliran listrik. Ironisnya, jaringan tiang listrik terakhir hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari permukiman mereka, namun hingga kini harapan menikmati penerangan listrik belum juga terwujud.
Dusun yang dihuni sekitar 120 jiwa tersebut seolah menjadi wilayah yang tertinggal dari arus pembangunan. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari sektor perkebunan dengan kondisi ekonomi yang sederhana. Rumah-rumah warga mayoritas masih berbahan papan dan sebagian berlantai tanah. Peralatan rumah tangga modern seperti televisi, kulkas, hingga mesin penanak nasi hampir tidak ditemukan karena ketiadaan pasokan listrik.
Kepala Dusun VIII Desa Pertahanan, Nazar Muliyono, mengaku warga sudah berkali-kali mengajukan permohonan agar jaringan listrik diperluas ke wilayah mereka. Namun hingga saat ini, berbagai usulan tersebut belum membuahkan hasil.
“Kami iri melihat dusun lain yang sudah menikmati listrik. Sementara kami sampai sekarang masih hidup dalam gelap. Sudah berulang kali kami menyampaikan permohonan, tetapi belum ada realisasi. Yang kami terima hanya janji,” ujar Nazar dengan nada sedih saat ditemui, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, kondisi infrastruktur di wilayah tersebut juga sangat memprihatinkan. Jalan menuju dusun rusak berat dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan yang menyebabkan jalan berlumpur dan licin. Sebaliknya, ketika musim kemarau, debu tebal menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga.
“Kami seperti kampung yang terisolasi. Jalan rusak, listrik tidak ada. Rasanya pembangunan belum menyentuh wilayah kami,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Nurdin Nasution (70), salah seorang warga yang telah puluhan tahun tinggal di dusun tersebut. Ia mengaku prihatin melihat kondisi kampung yang semakin tertinggal dibanding daerah lain.
“Jalan menuju kampung kami bahkan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat karena rusaknya sangat parah. Kami hanya berharap sebelum meninggal bisa merasakan listrik masuk ke kampung ini,” ungkapnya sembari menahan haru.
Nurdin menilai ketiadaan listrik telah menjadi salah satu penyebab berkurangnya jumlah penduduk di dusun tersebut. Banyak warga, terutama generasi muda, memilih meninggalkan kampung untuk mencari kehidupan yang lebih layak di daerah lain yang memiliki fasilitas lebih memadai.
Warga berharap pemerintah daerah, pemerintah desa, serta pihak PLN dapat segera melakukan survei lapangan dan merealisasikan pembangunan jaringan listrik ke Dusun VIII Desa Pertahanan. Bagi mereka, listrik bukan sekadar penerangan, tetapi kebutuhan dasar yang dapat membuka akses pendidikan, ekonomi, informasi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Di tengah berbagai keterbatasan yang mereka hadapi, harapan akan hadirnya listrik masih terus menyala di hati warga. Mereka menanti kehadiran negara yang mampu menghadirkan pemerataan pembangunan hingga ke pelosok desa, agar tidak ada lagi masyarakat yang hidup dalam kegelapan di era modern saat ini.(Edi)












