
WartaBerita.co.id – Pakpak Bharat | Wilayah Kabupaten Pakpak Bharat yang beribukatakan Salak sebagai pusat pemerintahan memperoleh sekitar 6000 hektar untuk izin pemanfaatan perhutani posial. Hal itu disampaikan Wabup Pakpak Bharat, Dr Mutsyuhito Solin MPd saat pertemuan dengan Tim Eksplor Jelajah Indonesian Fighter Tourism Association (IFTA) kemarin di Salak.
Rombongan IFTA kini tengah berada di daerah Pakpak Bharat dan tengah melakukan jelajah di kawasan tersebut. “Izin dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) RI sudah kami kantongi,” jelas Mutsyuhito.
Dalam kegiatan perhutani sosial, menurut Mutsyuhito telah mulai dibangun sejumlah sarana dan prasarana bagi pengunjung. Areal menyasar di salah satu kawasan hutan kapur atau kamfer yang ada di Desa Sibagindar. Saat ini area eko wisata hutan kapur tersebut dikelola oleh badan usaha milik desa (bumdes) yang terletak di Kecamatan Pagindar.
Upaya dimaksud merupakan salah satu langkah pemerintah setempat guna penyelematan dan pelestarian kayu jenis kapur yang terkenal dengan produk kristal kapur dan cairan ombil atau minyak kapur itu.
Sesuai penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), segala jenis kayu ada di hutan Kabupaten Pakpak Bharat. Dua jenis pohon yang sangat melegenda, yakni kapur dan kemenyaan dijumpai di daerah ini. Peizinan 6000 hektar dari Kementerian KLH ditujukan khusus untuk hutan kapur.
“Sejak dahulu, kayu kapur sangat terkenal dengan kehadiran para saudagar-saudagar dari Arab, Mesir, Timur Tengah dan lainnya di Barus demi memperoleh Kapur Barus. “Mereka tidak tahu jika Kapur Barus yang kesohor ini sebahagian besar berasal dari wilayah Pakpak Bharat,” sebut sarjana S3 ini.
Tim IFTA yang dipimpin Hendra Perdana itu, rombongan akan segera berangkat ke Kecamatan Pagindar, lokasi area perhutanan sosial.
Hendra berharap, pihaknya bisa medapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat demi pengembangan eko wisata hutan kapur sebagai sebuah objek yang bernilai. (Giahta Solin)












