
WartaBerita.co.id – Pakpak Bharat| Sebelum dimekarkan menjadi sebuah daerah otonom, Tanah Simsim yang kini Kabupaten Pakpak Bharat adalah merupakan bagian dari pemerintahan Dairi.
Di masa kejayannya, Tanah Simsim memiliki sejumlah produk lokal yang sangat diincar para pedagang Eropah dan Timur Tengah. Kemenyan, getah dan kristal kamfer atau kapur serta minyak nilam pernah menghantarkan sejumlah orang pedagang lokal ke puncak keemasannya.
Kisah kemenyan yang kesohor ini, konon sempat merajai pasar dunia kala itu. Seperti dilansir dari berbagai sumber mengatakan, para peniaga datang melalui Pelabuhan Barus (kini Kabupaten Tapteng, red).
Kisah getah kemenyan ini memiliki banyak manfaat sebagai bahan dasar pembuatan parfum, pewangi ruangan dan bahan upacara ritual bagi keyakinan tertentu.
Dinformasikan, beberapa tahun lalu, sejumlah ilmuwan dan peneliti yang tergabung dalam Badan Risent dan Inovasi Nasional (BRIN) pernah hadir di Kabupaten Pakpak Bharat dan melakukan praktek pembuatan parfum. Mereka mendemonstrasikan keahliannya dengan menggunakan kemenyaan, nilam, minyak sre wangi, dan kristal kapur sebagai bahan dasar ekstrak uji coba.
Dulu, para petani atau penyadap menjadikan getah kemenyan sebagai tabungan. Getah kemenyan disimpan dan ditimbun. Ketika harga menjanjikan atau kebutuhan ekonomi mendesak, kemenyan pun dijual kepada toke yang datang. Bahkan, dengan bermodalkan kemenyan, banyak para orang tua berhasil menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.
Seiring perjalanan waktu, penggiat atau petani yang mengusahakan usaha kemenyaan itu berangsur menurun drastis. Persoalan jauh dari rumah dan pengelolaan butuh waktu lama menjadi alasan bagi beberapa penggiat untuk beralih ke usaha lain.
Pasalnya, pohon kemenyan terletak dan tumbuhnya di hutan. Sementara butuh setidaknya enam bulan, mulai menigih atau menyadap hingga panen.
Namun demikian, hingga kini masih ada ditemui segelintir orang yang menekuninya yakni di Desa Kuta Jungak, Kecamatan Siempat Rube, Ulu Merah, Lae Langge Namuseng, Pardomuan (Kecamatan STTU Julu). Wilayah dimaksud merupakan penghasil kemenyaan terbaik di Kabupaten Pakpak Bharat.
Kegiatan menyadap kemenyan (merkemenjen, Bahasa Pakpak) juga mempengaruhi budaya setempat. Saat melakukan penyadapan, sipetani mendedangkan lantunan nyanyian nan merdu. Dalam Bahasa Pakpak disebut Mrodong-odong. Bukan odong-odong seperti di perkotaan yang mengangkut orang untuk tujuan jalan-jalan.
Ditengah keheningan di hutan belantara, si penyadap pun sambil melantunkan odong-odong, seolah menyampaikan pesan sedih dan pilu. Tapi itu dilakukan demi sebuah pengharapan dan doa, kelak getah kemenyaan akan menghasilkan getah kemenyan yang melimpah dan memiliki kualitas terbaik pula.
Petani pencari atau penyadap getah akan tinggal beberapa hari di tengah hutan. Ia membawa pembekalan secukupnya, berikut alat menanak nasi dan kelengkapan lain seperti curu-curu (sejenis keranjang yang terbuat dari rotan), tali (terbuat dari ijuk) untuk alat memanjat dan sigih (alat sadap).
Di tengah hutan, si penyadap mendirikan pondok kecil nan sederhana untuk tempat singgah sementara. Kemudian pulang usai pekerjaan menyadap selesai. Setelah berkisar enam bulan, petani akan balik lagi ke hutan untuk mengambil hasil.
Tidak jarang dan tak disangka-sangka, mereka kadang bertemu dengan ‘mpung ndaoh’, sebutan harimau sang penguasa rimba.
Demikian sekelumit seputar pengelolaan kemenyaan, kiranya salah satu warisan kearifan lokal ini bisa (kembali) ditumbuhkembangkan demi tujuan peningkatan ekonomi dari sektor sumber daya alam (SDA). (Giahta Solin)












