Kemenyan, Warisan Lokal yang Mulai Terlupakan

Keterangan: Tumpukan kemenyan sebelum dijual (kiri). Pohon kemenyan yang mengeluarkan getah setelah mendapatkan perlakuan (kanan). (Foto: ist)

WartaBerita.co.id-Pakpak Bharat | Dulu, hingga dekade tahun 80-an, kemenyan merupakan salah satu produk unggulan dan kebanggaan bagi masyarakat Tanah Simsim, jauh sebelum Kabupaten Pakpak Bharat dimekarkan.

Bagaimana tidak, para orang tua berhasil menyekolahkan anaknya dari hasil jual beli produk hutan non kayu tersebut hingga ke level sarjana. Baik mereka sebagai petani, maupun pedagang pengumpul.

Sayangnya, kini produk dan geliat usaha salah satu warisan lokal tersebut mulai terlupakan.

Menurut salah seorang pedagang pengumpul dari Desa Kuta Ujung, Kecamatan Sitellu Tali Urang (STTU) Julu, Kabupaten Pakpak Bharat, Situmorang menyebut, faktor penyebab usaha sadap kemenyan mulai ditinggalkan adalah karena adanya usaha pertanian lain, seperti pertanaman jagung yang kini tengah giatnya digalakkan oleh pemerintah.

Petani lebih memilih bertanam jagung. Waktunya singkat, lima bulan bisa panen. Jika menderes kemenyan makan waktu relatif cukup lama dan prosesnya panjang.

Makanya, kini untuk mengumpulkan hasil kemenyan sebanyak 1,5 ton dalam sebulan sangat sulit. Beda dengan sebelumnya yang bisa mencapai 2,5 sampai 3 ton/perbulan.

Padahal, kata Situmorang, jumlah sebanyak 1,5 ton dimaksud telah dikumpulkan oleh empat orang pembeli yang ada di Kabupaten Pakpak Bharat.

Wilayah kecamatan yang selama ini sebagai pemasok kemenyan di Kabupaten Pakpak Bharat yang masih bertahan adalah Kecamatan STTU Julu dan Siempat Rube.

Khusus di Pakpak Bharat, jenis yang sering diperjual belikan adalah kemenyan jenis bunga. Aromanya lebih wangi dan harga lebih tinggi dibandingkan kemenyan jenis bunga.

Kemenyan, atau dalam bahasa internasional dinamakan Frankincense adalah resin aromatik dari pohon genus Bosella.

Di Indonesia, kemenyan dikenal sebagai hasil hutan non kayu yang memiliki nilai ekonomi, sosial dan budaya. Kerap digunakan dalam acara ritual adat dan sebagai dupa.

Sementara di dunia industrialisasi, merupakan bahan penting dalam hilirisasi produk parfum, obat-obatan, kosmetik dan farmasi.

Selanjutnya di sektor aromaterapi secara tradisional, minyak kemenyan dimanfaatkan untuk relaksasi, menyegarkan kulit dan menenangkan pikiran. (Giahta Solin)