
WartaBerita.co.id – Aspirasi | Konflik , dalam kamus bahasa Indonesia artinya percekcokan, perselisihan, pertentangan.
Konflik ditengah hubungan diantara suami-istri, suami-anak, istri-anak, ayah-menantu, ibu-menantu, atasan-anak buah, yang berpacaran, adalah sesuatu yang harus dihadapi dalam berhubungan.
Kebanyakan orang baik ayah, ibu, anak, mertua, menantu, atasan, bawahan, kaum muda berpacaran menghadapi konflik dengan berbagai cara.
Saya menuangkan dari sebuah film berjudul “BRAZEN” , film tersebut bercerita tentang kisah pembunuhan berantai terhadap wanita dominatriks.
Sedangkan pengertian “Dominatriks” , adalah perempuan yang mendominasi pasangannya secara fisik dan psikis dalam hubungan seks dengan kekerasan.
Dalam film tersebut, wanita dominatriks yang menjadi korban pembunuhan berantai , memiliki latar belakang konflik dalam hubungan di rumah tangga. Dan menjadikan pelampiasan menjadi wanita dominatriks.
Banyak orang yang memiliki konflik dalam hubungan, mencari cara untuk melampiaskan konflik bahkan meminimalkan konflik dalam hubungan dengan berbagai cara.
Intinya, bagaimana konflik dalam sebuah hubungan bisa diminimalisasi atau dihindarkan, dan bukan dituangkan kedalam berbagai kegiatan seperti : menjalankan hobi, berolah raga, bersosial media, hang out bersama teman-teman bahkan ada orang melampiaskan konflik dengan bermabukan, berselingkuh , menyakiti perasaan orang lain (pasangannya) dan sebagainya, menjadi suatu kepuasan.
Semestinya menyelesaikan konflik dengan saling memahami dan menghargai hubungan yang dijalin.
Kita merasa bahwa konflik dapat diminimalkan, padahal kenyataannya bukan diminimalkan, namun sedang terjadi pemindahan konflik dari tempat sebelumnya ke tempat selanjutnya.
Penulis bercerita tentang pengalaman menghadapi konflik selama bertahun-tahun, dengan meminimalkan konflik dan mengabaikan konflik menggunakan cara yang disukai.Ternyata salah.
Namun perselisihan, percekcokan ditengah hubungan, baik itu hubungan suami-istri, orangtua-anak, mertua-mantu, atasan-anak buah, pasangan yang pacaran harus dihadapi dan berdamai dengan konflik.
Intinya rasa saling menghargai perbedaan, perselisihan itu diperlukan sehingga cara meminimalkan konflik menjadi benar adanya.
Jangan mencari pembenaran-pembenaran menurut diri sendiri, pandangan teman-teman, pandangan orang lain yg dianggap lebih tua dari kita, dan lain lain.
Jika perlu dalam mendiskusikan konflik pergilah kepada seseorang yang tepat, dan profesional dalam memberikan pandangan terhadap konflik yang dihadapi.
Terkadang, mendiskusikan konflik kepada orang tua sendiri, keluarga, teman2, bisa saja tidak memberikan pandangan yang objektif.
Marilah selesaikan perselisihan penyebab konflik dengan bijak, percayalah konflik ditengah hubungan (hubungan antar orang tua, hubungan suami isteri, hubungan kerja, hubungan berpacaran, dsb) senantiasa ada.***(BS)












