Sapo Jojong Berusia 200 Tahun, Satu-satunya Rumah Pakpak yang Tersisa

Keterangan: Sapo Jojong Pakpak, sesudah dan sebelum direhab. (Foto: Giahta Solin)

WartaBerita.co.id – Pakpak Bharat | Sapo Jojong, diperkirakan berusia 200 tahun lebih merupakan satu-satunya Rumah Adat Pakpak yang tersisa dan terawat hingga kini.

Salah satu warisan leluhur budaya bertema nuansa Etnis Pakpak itu terletak di Kuta Gedang, Desa Kaban Tengah, Kecamatan Sitellu Talu Urang (STTU) Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara.

Cerita dikisahkan dari yang mendiami Rumah dimaksud, Amin Berutu, Sapo Jojong tersebut merupakan peninggalan kakek buyutnya bernama Cining Berutu. Sementara ia adalah keturunan ke empat dari Cining Berutu.

“Sebelumnya, saya bekerja sebagai driver salah satu angkutan jurusan Medan-Aceh. Sekitar empat tahun lalu, ada pesan dari kakek untuk merawat dan menjaga rumah ini,” kata Amin Berutu mengawali kisah, hingga akhirnya mereka tinggal dan menetap di sana.

Menurutnya, pesan yang berasal dari kakek buyutnya disampaikan kepada anaknya melalui pembicaraan bathin. “Terkadang, bagi sebahagian orang, tidak logika. Tapi itulah yang terjadi,” bebernya.

Sebelum direhab empat tahun lalu, kondisinya cukup memprihatinkan. Orang yang menempati selama kurang lebih 20 tahun pra diperbaiki seolah tidak perduli. Cuma ditempati tanpa perawatan.

Saat itu kondisinya terbilang krisis. Rumah tua warisan kearifan lokal itu hampir oleng dan rubuh.

Oleh Amin Berutu, upaya perbaikan dilakukan. Berbekal tiga buah dongkrak, sisi bahagian yang mengalami penurunan diangkat. Ganjal dipinjam dari temannya sesama driver.

Berkat ketelitian dan sedikit keahlian di bidang pertukangan dan seni yang dimiliki Amin, kondisinya bisa dipulihkan. Meski tidak sempurna, posisi dinilai telah aman. Seluruh tiang penyangga disisipkan batu tumpuan. Istilah Pakpak disebut Batu Cendi.

Hingga kini, pengakuan Amin Berutu, ia telah mengeluarkan setidaknya Rp 80 juta untuk merawat dan memperbaiki rumah budaya peninggalan sejarah tersebut.

Mulai menyediakan pipa paralon sebanyak 130 batang, membeli kabel listrik sepanjang 700 meter dan pasangan meteran listrik.

“Bantuan pihak pemerintah kabupaten juga ada, tapi tak banyak. Selain jembatan yang baru diresmikan, mereka juga memberikan sejumlah papan gerga (papan yang telah diukir dengan Ornamen Pakpak, red).

“Masih banyak perlu dibenahi, termasuk fasilitas jalan dan lampu penerangan menuju lokasi,” harapnya kepada pemerintah dan instansi terkait.

Menurut Amin, lokasi berdiri rumah jojong dimaksud berada di seputaran Perbaciren. Oleh sesuatu hal, rumah itu dipindahkan. Jarak dari tempat awal hingga tempat sekarang menempuh beberapa kilometer.

Rumah ‘dicincang’, kemudian bagian-bagiannya diangkut menggunakan tenaga manusia dan kuda boban masa itu.

Seperangkat musik Pakpak berupa gung atau gong pernah turut menghiasi dan tersimpan di bagian loteng rumah itu, sebelum dipindahkan oleh penghuni sebelumnya.

Saat tengah malam, kadang bahkan gong dimaksud sering mengeluarkan bunyi-bunyian musik tradisional Pakpak. Suatu waktu nanti, Amin berharap, kelengkapan alat musik tersebut akan dikembalikan kepada mereka.

Saat sekarang ini, lokasi Rumah Jojong Pakpak ituenjadi lokasi destinasi pariwisata lokal di daerah itu.

Beberapa jenis ternak unggas, untuk lebih menarik pelancong dipelihara di sana. Bagi pengunjung tersedia tempat karaoke dengan tarif relatif murah, Rp 15 ribu/jam. Tersedia berbagai menu makanan dan minuman sederhana. (Giahta Solin)