Puluhan Tahun Hidup dalam Gelap, Warga Dusun VIII Sei Kepayang Akhirnya Melihat Secercah Harapan

Anggota DPRD Sumut dan PLN Turun Langsung Survei Lokasi, Program Listrik Masuk Desa Ditargetkan Terealisasi Akhir 2026

Keterangan : Foto bersama.(Dok/Ist)

WB – Asahan | Di tengah pesatnya pembangunan dan kemajuan teknologi, masih ada wilayah di Kabupaten Asahan yang belum pernah menikmati aliran listrik. Dusun VIII Desa Perjuangan, Kecamatan Sei Kepayang, menjadi salah satu potret ketimpangan pembangunan yang selama puluhan tahun hidup dalam keterbatasan, meski lokasinya hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat kecamatan.

Kondisi tersebut kini mulai mendapat perhatian. Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi NasDem, Samiun Marpaung, turun langsung bersama petugas PLN melakukan survei lapangan guna memastikan kesiapan program listrik masuk desa. Peninjauan dilakukan untuk memetakan kondisi geografis kawasan, jalur jaringan listrik, serta titik-titik penempatan tiang yang akan menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur kelistrikan di wilayah tersebut.

Selain Samiun Marpaung, kegiatan itu turut dihadiri Anggota DPRD Asahan Miftah Ilham Mazid, Sekretaris NasDem Asahan Budianto Lubis, Danramil Sei Kepayang Kapten Ramelin Damanik, serta sejumlah Babinsa yang ikut mendampingi proses survei.

Supervisor Survei Jaringan PLN Tanjungbalai, Mudawi Nuthri Nasution, menjelaskan bahwa Dusun VIII Desa Perjuangan telah masuk dalam usulan Program Listrik Desa Tahun Anggaran 2026 Tahap II. Menurutnya, PLN berharap seluruh proses perencanaan dapat berjalan sesuai jadwal sehingga pemasangan jaringan listrik dapat direalisasikan pada akhir tahun mendatang.

“Wilayah ini sudah diusulkan dalam anggaran 2026 tahap kedua. Kami berharap prosesnya berjalan lancar sehingga masyarakat dapat segera menikmati layanan listrik yang selama ini mereka nantikan,” ujar Mudawi saat berada di lokasi, Senin (15/6/2026).

Samiun Marpaung mengaku prihatin masih adanya wilayah yang belum tersentuh fasilitas dasar seperti listrik, padahal jarak dari jaringan listrik terdekat hanya sekitar tiga kilometer. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah dalam pemerataan pembangunan, khususnya di daerah pedesaan.

“Kami sangat menyesalkan masih ada masyarakat yang hidup tanpa listrik di tengah perkembangan zaman saat ini. Ini harus menjadi perhatian bersama. Kami akan mengawal program ini agar tidak hanya menjadi usulan di atas kertas, tetapi benar-benar terealisasi,” tegasnya.

Selain belum tersambung listrik, warga Dusun VIII juga menghadapi persoalan infrastruktur jalan yang dinilai belum mendapatkan perhatian memadai. Akses transportasi yang terbatas membuat aktivitas ekonomi dan pendidikan masyarakat berjalan dengan berbagai kendala.

Bagi warga setempat, rencana masuknya listrik bukan sekadar pembangunan jaringan energi, melainkan simbol harapan baru. Bertepatan dengan momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, banyak warga memaknai program tersebut sebagai langkah hijrah dari keterbatasan menuju kehidupan yang lebih baik.

“Selama ini kami hidup dalam kegelapan. Mudah-mudahan tahun ini menjadi awal perubahan bagi kampung kami,” ungkap salah seorang warga dengan penuh harap.

Jika terealisasi, program listrik masuk desa tersebut tidak hanya akan menerangi rumah-rumah warga, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendidikan, ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat yang selama puluhan tahun menanti hadirnya cahaya pembangunan.(Edi)