Sarianto Manik: Manfaatkan SDA, Dulang Rupaih

Keterangan: Sarianto Manik dengan keahliannya memperagakan pembuatan tampi. (Foto: Giahta Solin)

WartaBerita.co.id – Pakpak Bharat | Sarianto Manik, adalah salah seorang pengrajin dari Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat. Ia memanfaatkan sumber daya alam (SDA) untuk kegiatan bisnisnya.

Kerajinan tangan hasil olahan cekatan dari tangan terampilnya beragam. Bentuk dan fungsi bervariasi. Bahannya diperoleh dari hutan non kayu, yakni bambu dan rotan.

Ia melirik peluang usaha di bidang ini, mengingat alam menyediakan material yang cukup berlimpah. Untuk bahan baku kerajinan tangan yang diolahnya, modalnya tergolong murah.

“Hanya saja, untuk memperoleh bahan rotan, tempatnya cukup jauh. Butuh waktu dan tenaga,” bebernya ketika berbincang-bincang dengan wartaberita.co.id baru-baru ini.

Menurutnya, keterampilan yang dimilikinya diperoleh, ketika pihak Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat mengadakan pelatihan kerajinan tangan di Dekranasda setempat di Siempat Rube.

Berbagai model dan macam kerajinan dari bahan bambu dan rotan bisa diolahnya menjadi perhiasan dan alat rumah tangga. Mulai tampi, sungkup saji makanan, lampion lampu dan lainnya.

Soal kualitas, tidak usah diragukan. Mutu tidak kalah dengan produk yang di luar. Apalagi jika di pernis, tampilannya akan lebih eksotik dan menawan

Harga tergantung besaran, jenis dan kegunaan barang yang dihasilkan. Dicontohkan, seperti tampi dengan bahan anyaman bambu dan rotan, dihargai Rp 60 ribu sampai Rp 100 ribu per buah.

Pemasaran masih dilakukan dengan cara sederhana. Ia menjualnya jika ada pemesanan. Terkadang, orang datang dan melihat barang yang tersedia di rumah.

Ketika disambangi belum lama ini, Sarianto tampil mengeksekusi pembuatan tampi. Peragaan dipertontonkan kepada beberapa orang pengunjung, hingga kemudian, penulis bisa paham teknik dan cara pembuatan tampi, berikut mekanisme proses pembelahan bambu untuk bahan alat pembersih beras tersebut.

“Alam menyediakan bahan yang cukup. Harus dimanfaatkan untuk menambah penghasilan,” jelasnya.

Disebutkan, di daerah ini sudah banyak masyarakat dibekali dengan pelatihan kerajinan tangan. Sayangnya, belum bisa berkembang. Pemasaran merupakan faktor kendala.

Sekaitan itu, ia berharap, adanya kehadiran instansi terkait dari Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat guna mencari solusi pemecahan dan sarana promosi, sehingga barang-barang yang dihasilkan para pengrajin dapat dikenal orang banyak. (Giahta Solin)