
WartaBerita.co.id – Padangsidimpuan | Dugaan praktik pungutan liar (pungli) di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Padangsidimpuan kian menjadi-jadi dan seolah telah menjadi hal lumrah. Sejumlah tenaga pendidik mulai menyuarakan keresahan mereka terhadap situasi yang dinilai mencoreng dunia pendidikan.
Seorang guru yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkap, pengurusan administrasi di bagian Tata Usaha tak akan berjalan lancar tanpa uang pelicin. Bahkan, untuk mengurus aplikasi Simpatika bagi ASN, oknum admin berinisial MYS disebut meminta biaya Rp200.000 per orang.
“Modusnya minta uang minum. Untuk urus Simpatika juga dimintai biaya administrasi. Itu dilakukan oleh MYS, yang baru saja diangkat menjadi PPPK di Kemenag Padangsidimpuan,” kata sumber, Selasa (12/8/2025).
Tak hanya itu, pungli berkedok iuran perpisahan kelas XII disebut masih rutin dilakukan, meski telah ada larangan resmi dari Kepala Kanwil Kementerian Agama Sumatera Utara melalui surat edaran yang disebarkan ke seluruh madrasah di wilayah tersebut.
Sumber juga membeberkan adanya pungutan saat prosesi penamatan siswa kelas XII. Wali kelas diminta mengutip uang dari murid untuk membeli baju kenang-kenangan bagi para guru. Ironisnya, guru yang disebut sebagai penerima baju justru ikut dimintai iuran, dan hanya mendapatkan kain yang harus dijahit sendiri.
“Guru-guru hanya menerima bahan baju, harus jahit sendiri. Padahal uang sudah dikutip dari murid,” tegasnya.
Para tenaga pendidik berharap Kakanwil Kemenagsu, H. Ahmad Qosbi MM, segera menurunkan tim untuk memeriksa jajaran pejabat di MAN 1 Padangsidimpuan.
“Madrasah ini seharusnya menjadi tempat membentuk generasi bangsa, bukan ladang memperkaya oknum,” pungkasnya.(*)












